JAKARTA — Bencana kebakaran melanda sejumlah wilayah di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Selain kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area Sumatera dan Kalimantan, kobaran api turut melalap Gunung Bromo, Jawa Timur, hingga kawasan Ibu Kota Jakarta.
Dinamika tersebut memicu warga di sekitar titik lokasi berisiko terpapar asap. Melansir laman Environmental Protection Agency (EPA), asap kebakaran mengandung partikel halus atau PM2.5 yang sanggup menembus saluran pernapasan hingga memicu gangguan kesehatan.
Paparan asap dapat merangsang iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, yang dibarengi munculnya batuk, sesak napas, hingga sensasi mengi.
Pada penderita kondisi medis tertentu seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), kepulan asap dapat memperparah keluhan serta memicu kekambuhan.
Tidak cuma merusak organ pernapasan, partikel mikro dalam asap juga berisiko mengganggu kinerja sistem kardiovaskular. Maka dari itu, meminimalkan paparan menjadi langkah krusial, utamanya bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu dengan riwayat penyakit paru atau jantung.
Lantas, bagaimana panduan melindungi diri dari paparan asap kebakaran? Berikut langkah-langkahnya:
Segera menjauh dari sumber asap Apabila berada di luar bangunan saat kebakaran merebak, segeralah menghindar dari sumber asap dan bergeser ke tempat berudara lebih bersih. Hindari berdiri atau berkerumun di area yang dilintasi arah tiupan angin berasap.
Kurangi aktivitas di luar ruangan Tatkala udara terselimuti asap, pangkas durasi kegiatan di luar rumah, utamanya aktivitas fisik berat seperti olahraga. Kian lama dan sering berinteraksi dengan asap, kian tinggi volume partikel berbahaya yang terhirup masuk.
Latihan fisik membuat kami bernapas lebih cepat dan dalam sehingga lebih banyak udara terhirup ke paru-paru. Oleh sebab itu, agenda olahraga atau kegiatan tanpa pelindung di luar ruangan sebaiknya ditunda tatkala mutu udara memburuk.
Gunakan masker yang tepat Ketika terpaksa keluar rumah di tengah kepungan asap, manfaatkan respirator partikulat seperti tipe N95 atau KN95 yang terpasang presisi menutup wajah. Masker jenis ini jauh lebih ampuh menyaring partikel halus dibanding masker kain atau masker bedah standar.
Jaga udara di dalam rumah Merujuk publikasi School of Public Health Harvard, saat udara luar dipenuhi asap, segera rapatkan jendela dan pintu guna menekan potensi polutan masuk. Jika ada, operasikan air purifier berbatu pembersih High-Efficiency Particulate Air (HEPA).
Saringan ini dibekali daya rekat tinggi yang mampu menangkap minimal 99 persen partikel mikro di dalam ruangan.
Segera mandi dan ganti baju Usai beraktivitas di zona berasap, segeralah mencuci muka, mandi, keramas, dan berganti pakaian untuk melenyapkan endapan partikel asap yang melekat pada tubuh.
Tutup celah masuknya asap Selain merapatkan pintu dan jendela, cermati celah sekecil apa pun di sekitarnya yang dapat menjadi jalur masuknya asap. Gunakan kain pelindung atau penyekat untuk meminimalkan rembesan asap ke dalam hunian.
Pantau kualitas udara Hindari sekadar mengandalkan perkiraan jarak dari titik api atau kondisi visual langit untuk memastikan tingkat keamanan udara. Cermati pembaruan informasi indeks kualitas udara (AQI) di wilayah masing-masing sebelum memutus untuk beraktivitas di luar.