Kolaborasi PLN dan Komunitas Rappo Sulap 10,5 Ton Sampah Furnitur

Selasa, 11 Agustus 2026 | 01:40:32 WIB
Officer TJSL PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselabar) Khayrunnisa (Rompi Biru) dan Senior Officer Komunikasi dan TJSL PLN UID Sulselabar Vinca Resti Apriani.

JAKARTA — Masyarakat kawasan Pesisir Untia, Makassar, Sulawesi Selatan, berkolaborasi dengan komunitas pemberdayaan Rappo sukses mengolah limbah plastik menjadi furnitur bernilai ekonomi.

Rappo sendiri merupakan bagian dari Program Komunitas Berdaya Nusantara. General Affair Rappo Riswanda Fatriansah menerangkan bahwa pada kurun 2020 hingga 2024, pihak Rappo berfokus mendaur ulang sampah kantong plastik, lalu merambah ke jenis High-density polyethylene (HDPE) dan Polyethylene terephthalate (PET) sejak 2024.

"Salah satu contohnya itu botol-botol minuman, tutup botol, botol oli, terus juga ada tupperware ibu-ibu, kotak-kotak makanan itu, terus plastik-plastik yang berbahan keras. Itu yang biasanya masuk di kategori HDPE, seperti itu," ungkap dia di lokasi workshop Rappo Indonesia, Pesisir Untia, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (10/8/2026).

Proses daur ulang limbah plastik jenis HDPE dan PET ini terlaksana berkat sokongan dari PT PLN. Sejak 2024, Rappo resmi menjadi bagian dari komunitas binaan PT PLN (Persero) melalui PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar).

Dukungan yang disalurkan oleh PLN UID Sulselrabar mencakup program pembinaan operasional hingga pengadaan perangkat mesin pencacah.

"Dukungan yang diberikan itu pertama ada pendampingan untuk operator. Terus juga kami ada penyerahan mesin. Untuk penyerahan mesinnya itu kami ada mesin cacah terus juga mesin oven. Sama mesin injeksi. Ada total tiga," jelas Riswanda.

Guna menghimpun pasokan bahan baku sampah, Rappo membangun kemitraan bersama bank sampah lokal dan warga. Pihaknya juga membuka ruang donasi sampah plastik di kantor pusat Pengayoman, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar.

"Biasanya kami mengedukasi ke bank sampah-bank sampah mitranya kami atau ke orang-orang atau masyarakat di Makassar itu kalau misalnya bawa sampahnya itu jenisnya ini (HDPE) yang kami terima. Jadi biasanya kami ada edukasinya," terang dia.

Tumpukan sampah yang terkumpul kemudian diangkut menuju tempat pengolahan. Setelah dipilah dan dibersihkan, sampah plastik dimasukkan ke proses pencacahan hingga menjadi serpihan butiran kecil.

Butiran plastik tersebut lalu dipanaskan dan dicetak menjadi lembaran papan sebelum akhirnya diolah lebih lanjut oleh para pengrajin.

Dalam kurun satu bulan, Rappo sanggup mengolah sekitar 50 sampai 100 kilogram sampah plastik HDPE maupun PET. Secara akumulatif dari 2020 hingga 2026, total limbah plastik yang berhasil didaur ulang mencapai 10,5 ton.

Selain menghasilkan produk furnitur, Rappo Indonesia turut memproduksi plakat hingga pernak-pernik seperti gantungan kunci, dengan orientasi pasar menyasar industri hotel, restoran, kafe (horeca), serta sektor properti.

Riswanda menambahkan bahwa Program Komunitas Berdaya Nusantara berhasil menyerap 20 hingga 25 tenaga kerja lokal yang mayoritas merupakan ibu rumah tangga, dengan tingkat penghasilan mencapai Rp 2 juta tiap bulannya.

"Jadi selain kami aware juga dengan lingkungan, kami sebenarnya aware juga dengan kesetaraan masyarakat. Apalagi kami menjalin kerja sama kemitraan dengan masyarakat yang di Untia. Di mana rata-rata mereka itu sebenarnya punya penghasilan menengah sampai ke bawah. Bahkan ada yang tidak berpenghasilan," ungkap dia.

Pada kesempatan yang sama, Officer Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Sulselrabar Khayrunnisa menyampaikan bahwa kemitraan yang berjalan selama 1,5 tahun ini efektif mengelola 10,5 ton sampah menjadi aneka produk bermanfaat.

Langkah kolaborasi ini diambil mengingat pengolahan limbah menjadi barang bernilai jual masih menjadi hal baru di Makassar, sekaligus mendukung poin ke-8 Sustainable Development Goals (SDGs).

"Kami merasa bangga dengan bahwa apa yang kami mulai ini ternyata berdampak besar terhadap masyarakat termasuk untuk kemandirian ekonomi," jelas dia.

Ke depannya, Khayrunnisa berharap kerja sama ini dapat melipatgandakan kapasitas pengolahan sampah hingga menyentuh 20 ton demi memperkuat fondasi ekonomi sirkular di wilayah Makassar.

"Kan awalnya satu pengelolaan sampahnya itu 300 kilo per bulan. Nanti kami berharap bakalan sampai 2 kali lipatnya dan tenaga yang terserap. Berarti dari awalnya 10,5 bisa jadi 20 ton," tegas dia.

Terkini