Pergerakan Harga Emas Hari Ini Ditopang Sentimen Geopolitik 2026

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:00:02 WIB
Ilustrasi Emas antam.

JAKARTA - Banderol harga emas menguat pada sesi perdagangan seiring langkah para pelaku pasar yang menimbang pelemahan indikator data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) dengan kenaikan harga minyak, imbal hasil Treasury, serta ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed.

Berdasarkan laporan Kitco, harga emas spot berada di kisaran US$4.358,71 per troy ounce pada sesi perdagangan sore AS, alias terangkat naik 0,4 persen.

Penguatan tersebut terealisasi kendati estimasi kenaikan suku bunga The Fed pada kurun September kembali terangkat selepas sempat merosot tajam menyusul perilisan data ketenagakerjaan AS.

Indikator nonfarm payroll periode Juli 2026 yang dipublikasikan pekan lalu memperlihatkan penyusutan 23.000 pekerjaan, di kala data periode bulan-bulan sebelumnya direvisi ke level yang lebih rendah.

Situasi tersebut sempat menekan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September hingga melandai ke angka 44,4 persen dari posisi awal 54,7 persen sebelum rilis data.

Akan tetapi, pergerakan sentimen tersebut berbalik pada perdagangan Senin. Probabilitas kenaikan suku bunga September merangkak naik kembali menjadi 51,7 persen, sementara imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun melesat 5 basis poin menuju 5,244 persen.

Pergerakan riil pasar berikutnya bakal dipengaruhi oleh serangkaian rilis data ekonomi AS. Pihak pasar kini menantikan angka inflasi konsumen (CPI) Juli, dilanjutkan dengan indeks harga produsen (PPI) serta data penjualan ritel.

Di lain sisi, lonjakan harga minyak bumi menjadi elemen krusial yang ikut memengaruhi proyeksi laju inflasi. Dinamika di kawasan Selat Hormuz kembali menyedot perhatian usai manuver terbaru Iran menekan optimisme atas pembukaan kembali alur pelayaran dalam waktu dekat.

Kondisi tersebut memicu harga minyak mentah terangkat, imbal hasil Treasury meningkat, serta probabilitas kenaikan suku bunga The Fed kembali terangkat.

Rangkaian faktor ini menghadirkan tantangan bagi komoditas emas lantaran naiknya imbal hasil beserta penguatan Dolar AS umumnya mengerek biaya peluang dalam mengapit aset non-imbal hasil. Kendati begitu, emas tetap mendapatkan topangan dari kecemasan geopolitik dan ancaman inflasi.

Managing Partner Sprott Inc sekaligus Senior Portfolio Manager dan Chief Investment Officer Sprott Asset Management Maria Smirnova mengutarakan bahwa walau harga emas sempat terkoreksi dari puncak rekor, kekuatan ekonomi makro dan struktural penopangnya tetaplah kokoh.

Menurut pertimbangannya, pembengkakan utang pemerintah, defisit anggaran yang persisten, diversifikasi cadangan bank sentral dari Dolar AS, serta fragmentasi geopolitik masih menjadi fondasi penopang prospek emas.

“Utang pemerintah yang terus meningkat, defisit fiskal yang persisten, diversifikasi cadangan bank sentral dari dolar AS, serta fragmentasi geopolitik tetap menjadi latar belakang yang mendukung logam mulia,” kata Smirnova.

Sementara itu dari dalam negeri, harga emas Antam, Galeri 24, dan UBS di Pegadaian terpantau stagnan. Banderol emas Antam pecahan 0,5 gram dipatok Rp1.451.000, Galeri 24 sebesar Rp1.400.000, dan UBS seharga Rp1.474.000.

Untuk kepingan 1 gram, Pegadaian menjual emas Antam seharga Rp2.798.000, Galeri 24 senilai Rp2.669.000, serta UBS di posisi Rp2.729.000.

Di lain sisi, Chief Investment Officer Catalyst Funds David Miller memproyeksikan harga emas spot dunia pada akhirnya sanggup menembus kembali level US$5.000 per troy ounce dalam jangka waktu dua hingga dua setengah tahun mendatang.

"Saya pikir Anda bisa melihat harga US$5.000 per ounce, tetapi saya pikir dibutuhkan waktu dua hingga dua setengah tahun untuk kembali ke sana," kata Miller.

Adapun pada perdagangan spot harian, analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai struktur teknikal harian emas masih memperlihatkan sinyal tren bullish yang solid dengan target pergerakan menuju area resistance berikutnya.

"Selama indikator Stochastic belum memasuki fase pelemahan atau membentuk sinyal pembalikan arah, peluang kenaikan harga masih tetap terbuka," kata Geraldo.

Terkini